HUBUNGAN UMUR IBU DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD BANGKINANG KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU

  • elvina vina Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karimun

Abstract

Situasi derajat kesehatan di suatu wilayah digambarkan dalam berbagai indikator derajat kesehatan. Indikator yang dinilai dan telah disepakati secara nasional sebagai derajat kesehatan suatu wilayah meliputi umur harapan hidup, angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita dan status gizi balita/bayi. Dalam mencapai indikator tersebut diperlukan peranan baik dari pemerintah maupun dari segi medis demi tercapainya indikator tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi AKB salah satu diantaranya yaitu asfiksia pada bayi baru lahir. Dampak terjadinya asfiksia dapat menyebabkan risiko kematian BBL, sehingga diperlukan penanganan yang cepat dan tepat dalam mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur ibu dan paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang.

Jenis penelitian observasional analitik dengan desain kasus kontrol dengan sampel kasus dan kontrol berjumlah 130 bayi. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur ibu dan paritas dengan kejadian asfiksia neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang. Umur dengan nilai p= 0.005; OR= 2,92; 95% CI= 1,43-5,96,  paritas dengan nilai p= 003; OR= 3,12; 95% CI= 1,52-6,40,

Untuk mencegah terjadinya kejadian asfiksia neonatorum diharapkan ibu hamil selalu memeriksakan kehamilannya (antenatal care) secara teratur dengan  memanfaatkan  fasilitas  kesehatan  yang  tersedia  untuk mendeteksi adanya kelainan dalam kehamilannya.

 

Published
29-12-2019